Rabu, 27 September 2017

Kajian Ma'anil Hadis


Hadis tentang Kasih Sayang
(Kajian Maanil Hadis)
A.    Latar Belakang
            Hadis Nabi selalu hangat untuk diperbincangkan meski sudah ada sejak tahun 700 masehi. Sebagai sabda Nabi Muhammad SAW, hadis menjadi pedoman bagi umat islam untuk menjalani setiap langkah hidupnya. Tentu saja, mencakup berbagai aspek kehidupan, baik itu masalah teologis, sosiologis, maupun saintifis. Meski mencakup beberapa hal, hadis nabi tetap bermuara pada pengabdian seorang hamba kepada tuhannya.
Sebagai ajaran pokok Islam kedua setelah al-Qur’an, hadis memiliki peran yang signifikan dalam kehidupan umat Islam. Hadis dengan kekuatan yang dimilikinya, mampu mengaliensi manusia dari kebebasan yang dimilikinya, sehingga apa yang dikehendakinya dapat terwujudkan dalam bentuk perilaku manusia. Oleh karena itu, maka tidak heran jika IAN G. Barbour mengatakan bahwa apa yang datang dari agama selalu mendapat posisi yang lebih jika dibandingkan dengan sains. Lebih jauh, segala yang menjadi penemuan-penemuan ilmiah akan tetap bersifat meragukan.[1]
Jika kita melihat dari sisi hadis, maka akan kita temukan berbagai wacana ‘ketidak harmonisasian’ sepanjang sejarahnya, ini bisa dilihat dengan adanya pembagian status penyandaran hadis[2] yakni mauquf, marfu’ maqthu’, artinya terjadi perbedaan hadis itu bersumber dari mana dan siapa. Maka tidak heran jika para pengkaji non-muslim (Orientalis), misalnya, senantiasa memberikan kritikan tajam mengenai keotentitas atas sumber pedoman kedua umat Islam ini.[3] Lebih jauh lagi, persoalan kodifikasi hadis yang dilakukan setelah wafatnya Nabi, bahkan menginjak abad ke dua hijriyah semakin memperjelas keraguan keotentitas hadis bahwa hadis bersumber dari Nabi.[4]
Selain persoalan historisnya, kandungan yang dimuat oleh hadis juga acap kali menjadi kritikan tersendiri. Misalnya, persoalan empiris yang mengharuskan adanya bukti konkrit atau terkait kontekstualisasi dengan zaman kekinian, maka akan menjadi suatu kesulitan tersendiri ketika menjawabnya. Apakah masih relevan untuk saat ini, perlu adanya pengembangan atau bahkan pembaharuan.
Terkait dengan tema ini, seorang muslim hendaknya memiliki dan berusaha untuk menumbuhkan sifat kasih sayang serta menjahui perangai yang buruk yaitu sifat saling membenci diantara kaum muslimin dalam segala aspek kehidupan. Sebagaimana Allah subhanahu wa ta’ala mengutus Rasulullah salallahu berperlikau lemah lembut terhadap makhluk-Nya.

Senin, 18 September 2017

Kitab Shahih Kulli Zaman wa Makan



Mengapa Al-Quran begitu penting kehadirannya di dunia ini? Pertanyaan ini sudah pasti memiliki banyak alasan. Salah satunya adalah sebagai petunjuk bagi umat manusia. Sesuai dengan firman-NYA :

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيَ أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ

Artinya : “(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil).” (QS. Al-Baqarah (2: 185))
Selain itu Al-Quran juga berguna untuk mengatasi problematika umat yang semakin kompleks. Tidak sedikit orang yang mempertanyakan apakah Al-Quran masih relevan untuk memecahkan masalah kekinian? Jawabannya tentu saja masih. Al-Quran merupakan kalam Allah SWT yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW melalui malaikat Jibril secara mutawatir sebagai mukjizat dan membacanya merupakan suatu ibadah. Pesan Illahi tersebut menetapkan basis kehidupan individual dan sosial bagi umat Islam dalam segala aspek. Selain sebagai sumber pengetahuan bagi umat manusia, Al-Quran juga sebagai peletak dasar hukum yang mencakup segala hal, baik aqidah, ibadah, etika maupun muamalah.