Sabtu, 28 Oktober 2017

Filsafat Ilmu (Teori Kebenaran Ilmiah dan Non Ilmiah)



PENDAHULUAN
Ilmu pengetahuan selalu mengalami perkembangan dari waktu ke waktu. Hal itu tidakbisa dipungkiri. Indonesia yang notabennya sebagai negara berkembang, tidak akan maju sebelum meningkatkan kualitas sumber daya manusianya. Kualitas tersebut juga menentukan kualitas bangsa yang dapat ditunjang dengan cara perbaikan sistem pendidikan yang mapan. Sehingga, memungkinkan masyarakat Indonesia untuk berpikir kritis, produktif dan kreatif.
Dalam UUD 1945 disebutkan bahwa salah satu cita-cita bangsa Indonesia adalah mewujudkan masyarakat yang cerdas. Untuk itu, dibutuhkan masyarakat yang gemar membaca, cerdas intelektual, emosional dan spritual dan memiliki kemauan serta kemampuan minat juga mendengarkan lingkungan.
Berbicara tentang kebenaran ilmiah, tentu tak lepas dari metode ilmiah yang merupakan salah satu cara sistematis, teratur dan terkontrol yang dilakukan ilmuwan untuk memecahkan suatu masalah. Sedangkan kebenaran itu sendiri merupakan suatu yang krusial dalam hidup ini. Seringkali dengan dalih kebenaran seseorang, kelompok, lembaga bahkan negara akan menghalalkan segala cara terhadap pihak lain yang karena dianggap telah melakukan sesuatu yang benar.
Oleh karena itu, perlu kita ketahui bagaimana sesuatu tersebut bisa dianggap benar. Apa yang menjadi kriteria dari suatu kebenaran. Karena kebenaran tidak mungkin berdiri sendiri jika tidak ditopang dengan dasar-dasar penunjangnya. Baik pernyataan, teori, keterkaitan, konsistensi, keterukuran  yang dapat dibuktikan, berfungsi, dan bersifat netral atau tidak netral. Untuk mencapai sebuah kebenaran ada beberapa tahapan yang harus dilalui, baik itu rasional, hipotesa,  kausalitas, anggapan sementara, teori, atau sudah menjadi hukum kebenaran. Tahapan untuk mendapat kebenaran tersebut  dapat dilihat dengan menggunakan alat kajian filsafat, baik filsafafat Yunani, filsafat Barat, ataupun filsafat Islam.
B


PEMBAHASAN
A.    Hakikat Kebenaran
Dalam kamus umum bahasa Indonesia menurut Purwadarminta arti kebenaran diantaranya yaitu keadaan sesuatu yang benar, dan sungguh-sungguh ada. Kebenaran merupakan tema sentral didalam filsafat ilmu. Secara umum orang merasa bahwa tujuan pengetahuan adalah untuk mencapai kebenaran. Kebenaran sendiri merupakan kenyataan yang benar-benar terjadi. Pernyatan ini pasti, dan tidak dapat dipungkiri lagi. Tujuan ilmu pengetahuan juga untuk mencapai kebenaran. Selain itu, kebenaran  juga diartikan sebagai persesuaian antara pengetahuan dan obyeknya.
Kata “kebenaran” dapat digunakan sebagai suatu yang konkret maupun abstrak (Abbas Hamami, 1983). Jika subjek hendak menerjemahkan, maka kebenaran diartikan sebagai proposisi. Proposisi maksudnya makna yang terkandung dalam sebuah pernyataan. Apabila subjek menyatakan kebenaran bahwa propisisi yang diuji itu pasti memiliki kualitas, sifat, karakteristik, hubungan dan nilai. Maka kebenaran tidak bisa lepas begitu saja dari hal-hal tersebut. Tidak heran jika ada perbedaan cara pandang antara subjek satu dengan yang lain.
Seperti yang sudah disinggung diatas, kebenaran berkaitan dengan kualitas pengetahuan. Selain itu kebenaran erat hubungannya dengan sifat atau karakteristik bagaimana cara atau dengan alat apa seseorang membangun pengetahuannya. Kebenaran pengetahuan yan terakhir adalah kebenaran yang dikaitkan atas ketergantungan terjadinya pengetahuan itu. Artinya bagaimana relasi antara subjek dan objek, manakah dari keduanya yang dominan dalm membangun pengetahuan.
B.     Teori-Teori Kebenaran Ilmiah
1`. Kebenaran Proposisi
            Teori kebenaran proposisi adalah pernyataan tentang hubungan yang terdapat diantara dua term. Unsur pokok yang harus diperhatikan dalam teori ini. Yaitu, subjek, predikat dan tanda (Kopula). Pengubung antara subjek dan predikatlah yang dinamakan kopula.[1] Contoh untuk hal tersebut sebagai berikut : “Setiap manusia adalah tidak kekal”. Term setiap manusia, sama dengan “subyek”, dan term tidak kekal, adalah “predikat”, sedangkan kata adalah, merupakan “kopula”. Statemen tersebut dilihat dari struktur kalimatnya adalah sempurna, serta makna yang dimilikinya pun sungguh-sungguh benar.  Artinya bisa saja orang memandang statemen tertentu benar dari sisi formal / struktur kalimatnya, tetapi dari kondisi riil / materialnya tetap tidak benar. Misalnya ungkapan dalam bentuk silogisme : Premis Mayor, anjing makan daging. Premis Minor, kucing makan daging. Kesimpulan, kucing sama dengan anjing. Pada ungkapan itu, secara formal sudah memenuhi syarat, sehingga dari sisi gramatikal sudah benar. Namun sisi materiil; isi / maknanya tidak benar sebab dari dulu hingga sampai kapanpun kucing tidak sama dengan anjing. Masalah kesamaan selera makan tidak dengan sendirinya merubah kondisi riil / substansial keduanya menjadi sama
2.      Kebenaran Koherensi
Teori kebenaaran koherensi mengatakan bahwa sebuah preposisi atau pernyataan dianggap benar apabila pernyataan itu bersifat koheren atau konsisten dengan pernyataan-pernyataan sebelumnya yang diangaap benar.[2]
Teori ini pertama kali dimunculkan oleh Plato (428/7-348/7 SM ). Dia telah membedakan antara idea dan  non idea. Idea ialah dunia gagasan, pikiran, ruh, dan jiwa, sedangkan non-idea ialah dunia fisik dan jasmani. Non-idea pada dasarnya terlihat sangat menarik dan menawan, namun pada hakikatnya ia akan dilebur waktu, dan tidak abadi sepanjang zaman. Sedangkan idea hanya berupa gagasan yang tak kasat mata, tidak terlihat tentang keadaan rupanya, namun ialah yang akan abadi dan kekal. Dari paparan itu, dapat dipahami bahwa dunia idea ialah dunia yang serba ada dan mencapai titik puncak yaitu kesempurnaan yang terkumpul didalamnya rasionalitas, dan ada jiwa yang menjalankan perilaku kemanusiaan. Tokoh idealisme yang selalu berpijak kepada rasionalisme dia mendukung teori koherensi ini yaitu F.H Bradley.
Dalam teori ini, semua preposoisi saling berkaitan satu sama lain, contohnya untuk mendefenisikan angka sembilan, kita tidak biasa hanya menyebut hasil penjumlahan dari lima ditambah empat, namun juga hasil dari bagi, kali, dan pengurangan.
3.      Kebenaran Korespondensi
Teori ini menyatakn bahwa sebuah preposisi dianggap benar apabila sesuai dengan objek yang dituju, atau pernyataan itu sesuai dengan fakta. Dalam Dictionary of Philosophy, kebenaran korespondensi adalah kebenaran yang ditentukan oleh kesesuaian antara preposisi dengan unsur-unsur dari fakta.
Sejarah kemunculannya didasari dan dilatarbelakangi Aristoteles. Filosof ini merupakan murid dari Plato. Argumennya adalah dia mengkritik pendapat gurunya yang berani atau terlalu terkesan dengan suatu ide, namun dia memandang dari sisi lain yaitu kesempurnaan manusia tidak hanya terbentuk dari akal yang dimilikinya, namun juga dari jiwa yang sempurna. Tokoh yang mendukung teori ini adalah Rogers dan Bertrand Russels.
Jadi dalam teori ini suatu kebenaran itu akan dinyatakan benar jika telah ada suatu pembuktian yang bersifat empiris.[3]
4.      Kebenaran Pragmatis
Kebenaran ini berarti kebenaran yang diukur berdasarkan kegunaanya secara praktis. Dalam teori ini para ilmuan yang berkembang adalah filosof pragmatis itu sendiri yaitu Charles S. Phieces, Penulis buku how to make ou idea clear? Ia meyakini bahwa segala sesuatu yang akan dijadikan pertimbangan harus dipikirkan matang-matang, apakah memberikan manfaat atau mudharat. Yang penting adalh betapa beasar akibat yang ditimbulka gagasan itu sendiri, tanpa memikirkan hakikat gagasan itu sendiri. Pengetahuan ynag dimiliki manusia berasal dari akibat yang disaksikannya.
Jadi teori ini memngandalkan akan suatu kebenaran diukur dengan cara fungsional. Contoh teori x akan dianggap benar apabila dirasakan manfaatnya.[4]
5.      Kebenaran Performatif
Teori kebenaran ini mengandaikan bahwa suatu proposisi dapat dikatakan benar apabila sesuai denagn perbuatan konkret. Pendukung teori ini adalah Frank Ramsey, John Austin, dan Peter Strawson. Teori ini menentang teori klasik bahwa benar salah itu hanya menyatakan ungkapan suatu yang sudah ada. Para ilmuannya lebih menekankan bahwa kebenaran itu lebih terfokus kepada sesuatu yang belum tercipta sebelumnya, dan leawat suatu pernyataaan, maka kebenaran itu bisa dipertegas. Contoh “ aku bersumpah setia kepadamu”, maka hal ini akan dikatakan benar jikalau dia melakukan sumpahnya. [5]
C.     Teori- teori kebenaran Non-Ilmiah
1.      Pengetahuan Biasa
Penganut teori ini disebut dengan realisme. Teori ini mempunyai pandangan realitas terhadap alam. Pengetahuan menurut realisme adalah gambaran atau kopi yang sebenarnya dari apa yang ada dalam alam nyata (dari fakta atau hakikat). Pengetahuan atau gambaran yang ada dalam akal adalah kopi yang asli yang ada diluar akal. Hal ini tidak ubahnya seperti gambaran yang terdapat dlam foto. Dengan demikian, realisme berpendapat bahwa pengetahuan adalah benar dan tepat jika sesuai dengan kenyataan.[6]
Dalam kehidupan sehari-hari manusia tidak terlepas dari proses tahu (tahap awal),dan hasilnya disebut pengetahuan biasa (tahap kedua). Tahap ketiga ialah ilmu pengetahuan atau pengetahuan ilmiah, yaitu pengetahuan yang tingkat vasiliditasnya diatas pengetahuan biasa. Contoh pengetahuan biasa, “setiap orang tahu bahwa api itu panas.” Pengetahuan tersebut diperoleh dengan cara kontak atau pengalaman (indrawi) antara subjek dengan objek.[7]
2.       Wahyu
Dalam kamus bahasa indonesia, wahyu yang berasal dari bahasa arab, berarti adalah perwujudan (sepeti orang, dan sebagainya) sebagai apa yang terlihat dalam mimpi. Art lainya adalah petunjuk atau ajaran tuhan yang di turunkan dengan perwujudan dalam mimpi, dan sebagainya.
Arti wahyu secara  umum adalah bisikan, isyarat atau petunjuk , ilham, perintah, perundingan rahasia. Dalam syara”, wahyu adalah pengetahuan yang diperoleh Nabi atau Rasul, yang berasal dari allah dengan perantara/ tidak melalui perantara ( malaikat, mimpi, indra, lonceng). Manusia tidak akan mengetahui hakikat wahyu secara pasti, hanya Allahlah yang mengetahui hakekatnya. Logikanya, sesuatu yang dibawa/ disampaikan oleh orang  yang terkenal jujur dan terpelihra dari kesalahan.[8]
3.      Mitos
Mitos itu diturunkan secara subyektif, dalam arti kebenaranya hanya berlaku dimana berlaku dalam masyarakatnya, dan tidak ada kaitan antara pengalaman dan penuturan. Mitos berarti menghindar realitas, bukan menghadapi realitas. Seperti ruwatan, patung, sesaji yang dianggap symbol yang dapat menghindarkan malapetaka.
Mitos biasanya efektif sebagai alat komunikasi massa. Mitos akan hidup tatkala rakyat tertekan da n penuh harapan. Mitos dapat juga mendorong per buatan. Misal mitos tentang ratu kidul, masyarakat antusias datang kepantai seklatan melakukan ritual dan sesaji berharap agar hidupnya selamat, aman dan tentram.[9]
Keyakinan adalah kemampuan yang ada pada diri manusia yang diperoleh melalui kepercayaan. Sesungguhnya antara sumber pengetahuan berupa wahyu dan keyakinan ini sangat sukar untuk dibedakn. Adapun keyakinan melalui kemampuan kejiwaan manusia merupakan pematangan dari kepercayaan.[10]
4.      Mistik
Mistik atau disebut juga dengan spiritual adalah teori yang masuk dalam supra-rasional, kadang memiliki bukti empiris, tetapi kebanyakan tidak dapat dibuktikan secara empiris.
Spiritualisme adalah ajaran yang menytakan bahwa kenyataan yang terdalam adalah roh (Pneuma, Nus, Reason, logos) yaitu roh yang mengisi dan mendasari seluruh alam. Spiriualisme dalam arti ini  dilawankan dengan materialisme. Spiritualisme kadang-kadang dikenakan pada pandangan idealistik yang menyatakan adanya roh mutlak. Dunia indera dalam pengertian ini dipandang sebagai dunia idea.[11]
5.       Intuisi
Menurut Henry Bergson intuisi adalah hasil dari evolusi pemahaman yang tertinggi. Kemampuan ini mirip dengan insting, tetapi berbeda dengan kesadaran dan kebebasannya. Pengembangan kemampun ini (intuisi) memerlukan suatu usaha. Ia juga mengatakan bahwa intuisi adalah suatu pengetahuan yang langsung, yang mutlak dan bukan pengetahuan yang nisbi.
Menurutnya, intuisi mengatasi sifat lahiriah pengetahuan simbolis, yang pada dasarnya bersifat analisis, menyeluruh, mutlak, dan tanpa dibantu oleh penggambaran secara simbolis. Karena itu, intuisi adalah sarana untuk mengetahui secara langsung dan seketika. Analisis atau pengetahuan yang diperoleh lewat pelukisan tidak dapat menggantikan hasil pengenalan intuisi.[12]
Intuisi bersifat personal dan tidak bisa diramalkan. Sebaga dasar untuk menyusun pengetahuan secara teratur maka ituisi tidak bisa diandalkan. Pengetahuan intuitif dapat dipergunakan sebagai hipotesis bagi analisis selanjutnya  dalam menentukan benar tidaknya pernyataan yang dikemukakannya. Kegiatan intuitif dan analitik bisa bekerja saling membantu dalam menentukan kebenaran. Bagi Maslow intuisi ini merupakan pengalaman puncak (peak experience)[13] sedangkan bagi Nietzsche merupakan inteligensi yang paling tinggi.[14]
D.    Cara Menemukan Kebenaran.
Tahapan dalam menemukan kebenaran dapat diklasifikasikan dan dilihat dengan cara yang ilmiah dan non ilmiah. Cara-cara untuk menemukan kebenaran sebagai mana diuraikan oleh Hartono Kasmadi, dkk.,(1990) sebagai berikut:
1.            Penemuan secara kebetulan
Penemuan kebenaran secara kebetulan Yaitu penemuan yang berlangsung tanpa disengaja. Dalam sejarah manusia, secara kebetulan itu banyak juga yang berguna walaupun terjadinya tidak dengan cara yang ilmiah, tidak disengaja,dan tanpa rencana.Cara ini tidak dapat diterima dalam metode keilmuan untuk menggali pengetahuan atau ilmu.
2.            Penemuan’ coba dan ralat’(trial and error)
Penemuan cobadan ralat terjadi tanpa ada kepastian akan berhasil atau tidak berhasil kebenaran yang dicari. Memang ada aktivitas mencari kebenaran, tetapi aktivitas itu mengandung unsur spekulatif atau untung-untungan. Penemuan dengan cara ini kerap kali memerlukan waktu yang lama, karena memang tanpa rencana, tidak terarah, dan tidak diketahui tujuannya. Cara coba dan ralat ini pun tidak dapat diterima sebagai cara yang ilmiah dalam usaha untuk mengungkapkan kebenaran.
3.            Penemuan melalui otoritas atau kewibawaan
Pendapat orang-orang yang memiliki kewibawaan, misalnya orang-orang yang mempunyai kedudukan dan kekuasaan sering di terima sebagai kebenaran meskipun pendapat itu tidak didasarkan pada pembuktian ilmiah. Pendapat itu tidak berarti tidak ada gunnya. Pendapat itu tetap berguna, terutama alam merangsang usaha penemuan baru bagi orang-orang yang menyangsikannya. namun demikian adakalanya pendapat itu ternyata tidak dapat dibuktikan kebenarannya.
4.            Penemuan secara spekulatif
Cara ini mirip dengan cara coba dan ralat. Seseorang yang menghadapi suatu masalah yang harus dipecahkan pada penemuan secara spekulatif, mungkin sekali ia membuat alternatif pemecahan. Kemudian memilih salah satu alternatif pemecahan, sekali pun tidak yakin benar mengenai keberhasilannya.
              5.       Penemuan kebenaran lewat cara berfikir kritis dan rasional
Dalam menghadapi masalah, manusia berusaha menganalisisnya berdasarkan pengalaman dan pengetahuan yang dimiliki untuk sampai pada pemecahan yang tepat.Cara berfikir yang ditempuh pada tingkat permulaan dalam memecahkan masalah adalah dengan cara berpikir analitis dan cara berpikir sintetis.
6.       Penemuan kebenaran melalui penelitian ilmiah
 Cara mencari kebenaran yang dipandang ilmiah yang dilakukan penelitian. Penelitian adalah penyaluran hasrat ingin tahu pada manusia dalam taraf keilmuan.Penyaluran sampai pada taraf setinggi ini disertai oleh keyakinan bahwa ada sebab bagi setiap akibat, sddan bahwa setiap gejala yang tampak dapat dicari penjelasannya secara ilmiah. pada setiap penelitian ilmiah melekat ciri-ciri umum yaitu pelaksanaannya yang metodis harus mencapai suatu keseluruhan yang logis dan koheren. Artinya, di tuntut adanya sistem dalam metode maupun dalam hasilnya. Setiap peneletian ilmiah harus objektif, artinya terpimpin oleh objek dan tidak mengalami distori kerana adanya berbagai prasangka subjektif. Agar penelitian ilmiah dapatdijamin objektifitasnya. Prosedur penelitian harus terbuka untuk diperiksa oleh ilmuan yang lain. Oleh karena itu , penelitian ilmiah harus dapat dikomunikasikan.
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Secara tidak langsung, hakikat manusia hidup adalah ditakdirkan sebagai makhluk yang selalu mencari kebenaran. Hingga menemukan tiga bentuk eksistensi, yaitu agama, ilmu pengetahuan, dan filsafat. Agama mengantarkan pada kebenaran dan filsafat membuka jalan untuk mencari kebenaran. Sedangkan ilmu  pengetahuan pada hakikatnya adalah kebenaran itu sendiri, karena manusia menuntut ilmu dengan tujuan mencari tahu rahasia alam agar gejala alamiah tersebut tidak lahgi menjadi misteri.
       Di dunia ini, tidak ada kebenaran yang absolut.  Kebenaran dan kesesatan ilmu pengetahuan itu sendiri tergantung kepada kita yang berusaha mencari tahu dengan menggunakan kebenaran ilmiah yang terdiri dari proposisi, koherensi, korespondensi, performatif, paradigmatik, semantik, sintaksis, pragmatik, non deskripsi dan kebenaran logis yang berlebihan. Juga melalui kebenaran non ilmiah yang terdiri dari pengetahuan biasa, wahyu, mitos, mistik dan intuisi.
B.     Saran
Dalam pembuatan makalah ini, penulis telah berusaha mencurahkan segala pemikiran, tenaga, dan upaya agar makalah ini dapat terselesaikan dan mendekati sempurna untuk bisa dipahami dengan mudah oleh pembaca. Namun “tiada gading yang tak retak.” Penulis menyadari bahwa masih banyak kesalahan dari segi isi maupun penulisannya. Oleh karena itu, kemi dengan terbuka dan lapang dada akan menerima segala saran dan kritik yang membangun dari seluruh pihak. Akhir kata sekian dari penulis, mudah-mudahan makalah ini dapat bermanfaat untuk seluruh pihak dan dapat dikembangkan di pembahasan maupun penelitian yang selanjutnya.

DAFTAR PUSTAKA

Suhasti, Ermi, Filsafat Ilmu,  Yogyakarta: Prajanya Media, 2012.
Adib, Muhammad, Filsafat Ilmu, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2011.
Tim Dosen, Filsafat Ilmu, Yogyakarta: Lyberty, 2010.
Bakhtiar, Amsal, Filsafat Ilmu,  Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2004.
Stanley M.Honer dan Thomas C. Hunt, Invitation to Philosophy ,Belmont, Cal:Wadswrth, 1968.
Jujun S. Suriasumantri, Filsafat Ilmu, Jakarta:Pustaka Sinar Harapan, 2007, cet. Kedua puluh.
Sibawaihi, Filsafat Ilmu, Yogyakarta: Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2011.
Ghazali, Bakhri,dkk, Filsafat Ilmu, Yogyakarta: Pokja Akademik UIN Sunan Kalijaga,2005.





1 Ghazali, Bakhri, Filsafat Ilmu,( Yogyakarta: Pokja Akademik UIN Sunan Kalijaga,2005), hlm.74
[2] Sibawaihi, Filsafat Ilmu, (Yogyakarta: Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2011), hal. 26
[3] Sibawaihi, Filsafat Ilmu, (Yogyakarta: Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2011),  hal.27
[4] Sibawaihi, Filsafat Ilmu, (Yogyakarta: Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2011),  hal 28
[5] Sibawaihi, Filsafat Ilmu, (Yogyakarta: Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2011), hal 29
[6] Amsal Bakhtiar, Filsafat Agama, (Jakarta : Logo, 1997), cet. I, hlm. 38.
[7] Ermi Suhasti, filsafat ilmu,(yogyakarta : prajnya media,jan 2012),cet. I, hlm. 67
[8]  Ermi Suhasti, filsafat ilmu, (yogyakarta: prajnya media,2012).cet. I, hlm.68.

[9] Suhasti, Ermi, Filsafat Ilmu,(yogyakarta: prajnya media,2012).cet I, hlm.69.
[10] H. Muhammad Adib, Filsafat Ilmu, (Yogyakarta:Pustaka Pelajar, 2011), cet. II, hlm. 26.
[11] Tim Dosen, Filsafat Ilmu, (Yogyakarta:Lyberty, 2010), cet. Kelima,  hlm. 35.
[12] Amsal Bakhtiar, Filsafat Ilmu, ( Jakarta:Raja Grafindo Persada, 2004), edisi revisi, hlm. 107 – 108.

[13] Dikutip dalam Stanley M.Honer dan Thomas C. Hunt, Invitation to Philosophy (Belmont, Cal:Wadswrth, 1968), hlm. 72
[14] Jujun S. Suriasumantri, Filsafat Ilmu, ( Jakarta:Pustaka Sinar Harapan, 2007), cet. Kedua puluh, hlm. 53.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar