PENDAHULUAN
Ilmu pengetahuan selalu mengalami perkembangan dari waktu ke waktu.
Hal itu tidakbisa dipungkiri. Indonesia yang notabennya sebagai negara
berkembang, tidak akan maju sebelum meningkatkan kualitas sumber daya
manusianya. Kualitas tersebut juga menentukan kualitas bangsa yang dapat
ditunjang dengan cara perbaikan sistem pendidikan yang mapan. Sehingga,
memungkinkan masyarakat Indonesia untuk berpikir kritis, produktif dan kreatif.
Dalam UUD 1945 disebutkan bahwa salah satu cita-cita bangsa
Indonesia adalah mewujudkan masyarakat yang cerdas. Untuk itu, dibutuhkan
masyarakat yang gemar membaca, cerdas intelektual, emosional dan spritual dan
memiliki kemauan serta kemampuan minat juga mendengarkan lingkungan.
Berbicara tentang kebenaran ilmiah, tentu tak lepas dari metode
ilmiah yang merupakan salah satu cara sistematis, teratur dan terkontrol yang
dilakukan ilmuwan untuk memecahkan suatu masalah. Sedangkan kebenaran itu
sendiri merupakan suatu yang krusial dalam hidup ini. Seringkali dengan dalih
kebenaran seseorang, kelompok, lembaga bahkan negara akan menghalalkan segala
cara terhadap pihak lain yang karena dianggap telah melakukan sesuatu yang
benar.
Oleh karena itu, perlu kita ketahui bagaimana sesuatu tersebut bisa
dianggap benar. Apa yang menjadi kriteria dari suatu kebenaran. Karena
kebenaran tidak mungkin berdiri sendiri jika tidak ditopang dengan dasar-dasar
penunjangnya. Baik pernyataan, teori, keterkaitan, konsistensi,
keterukuran yang dapat dibuktikan,
berfungsi, dan bersifat netral atau tidak netral. Untuk mencapai sebuah
kebenaran ada beberapa tahapan yang harus dilalui, baik itu rasional,
hipotesa, kausalitas, anggapan
sementara, teori, atau sudah menjadi hukum kebenaran. Tahapan untuk mendapat
kebenaran tersebut dapat dilihat dengan
menggunakan alat kajian filsafat, baik filsafafat Yunani, filsafat Barat,
ataupun filsafat Islam.
B
PEMBAHASAN
A.
Hakikat Kebenaran
Dalam kamus umum bahasa Indonesia menurut Purwadarminta arti
kebenaran diantaranya yaitu keadaan sesuatu yang benar, dan sungguh-sungguh
ada. Kebenaran merupakan tema sentral didalam filsafat ilmu. Secara umum orang
merasa bahwa tujuan pengetahuan adalah untuk mencapai kebenaran. Kebenaran
sendiri merupakan kenyataan yang benar-benar terjadi. Pernyatan ini pasti, dan
tidak dapat dipungkiri lagi. Tujuan ilmu pengetahuan juga untuk mencapai
kebenaran. Selain itu, kebenaran juga
diartikan sebagai persesuaian antara pengetahuan dan obyeknya.
Kata “kebenaran” dapat digunakan sebagai suatu yang konkret maupun
abstrak (Abbas Hamami, 1983). Jika subjek hendak menerjemahkan, maka kebenaran
diartikan sebagai proposisi. Proposisi maksudnya makna yang terkandung dalam
sebuah pernyataan. Apabila subjek menyatakan kebenaran bahwa propisisi yang
diuji itu pasti memiliki kualitas, sifat, karakteristik, hubungan dan nilai.
Maka kebenaran tidak bisa lepas begitu saja dari hal-hal tersebut. Tidak heran
jika ada perbedaan cara pandang antara subjek satu dengan yang lain.
Seperti yang sudah disinggung diatas, kebenaran berkaitan dengan
kualitas pengetahuan. Selain itu kebenaran erat hubungannya dengan sifat atau
karakteristik bagaimana cara atau dengan alat apa seseorang membangun
pengetahuannya. Kebenaran pengetahuan yan terakhir adalah kebenaran yang
dikaitkan atas ketergantungan terjadinya pengetahuan itu. Artinya bagaimana
relasi antara subjek dan objek, manakah dari keduanya yang dominan dalm
membangun pengetahuan.
B.
Teori-Teori Kebenaran Ilmiah
1`. Kebenaran
Proposisi
Teori kebenaran proposisi adalah
pernyataan tentang hubungan yang terdapat diantara dua term. Unsur pokok yang
harus diperhatikan dalam teori ini. Yaitu, subjek, predikat dan tanda (Kopula).
Pengubung antara subjek dan predikatlah yang dinamakan kopula.[1]
Contoh untuk
hal tersebut sebagai berikut : “Setiap manusia adalah tidak kekal”. Term setiap
manusia, sama dengan “subyek”, dan term tidak kekal, adalah “predikat”,
sedangkan kata adalah, merupakan “kopula”. Statemen tersebut dilihat dari
struktur kalimatnya adalah sempurna, serta makna yang dimilikinya pun
sungguh-sungguh benar. Artinya bisa
saja orang memandang statemen tertentu benar dari sisi formal / struktur
kalimatnya, tetapi dari kondisi riil / materialnya tetap tidak benar. Misalnya
ungkapan dalam bentuk silogisme : Premis Mayor, anjing makan daging. Premis
Minor, kucing makan daging. Kesimpulan, kucing sama dengan anjing.
Pada ungkapan itu, secara formal sudah memenuhi syarat, sehingga dari sisi
gramatikal sudah benar. Namun sisi materiil; isi / maknanya tidak benar sebab
dari dulu hingga sampai kapanpun kucing tidak sama dengan anjing. Masalah
kesamaan selera makan tidak dengan sendirinya merubah kondisi riil /
substansial keduanya menjadi sama
2.
Kebenaran Koherensi
Teori kebenaaran koherensi mengatakan bahwa
sebuah preposisi atau pernyataan dianggap benar apabila pernyataan itu bersifat
koheren atau konsisten dengan pernyataan-pernyataan sebelumnya yang diangaap
benar.[2]
Teori ini pertama kali dimunculkan oleh Plato (428/7-348/7 SM ). Dia
telah membedakan antara idea dan non
idea. Idea ialah dunia gagasan, pikiran, ruh, dan jiwa, sedangkan non-idea
ialah dunia fisik dan jasmani. Non-idea pada dasarnya terlihat sangat menarik
dan menawan, namun pada hakikatnya ia akan dilebur waktu, dan tidak abadi
sepanjang zaman. Sedangkan idea hanya berupa gagasan yang tak kasat mata, tidak
terlihat tentang keadaan rupanya, namun ialah yang akan abadi dan kekal. Dari
paparan itu, dapat dipahami bahwa dunia idea ialah dunia yang serba ada dan
mencapai titik puncak yaitu kesempurnaan yang terkumpul didalamnya
rasionalitas, dan ada jiwa yang menjalankan perilaku kemanusiaan. Tokoh
idealisme yang selalu berpijak kepada rasionalisme dia mendukung teori
koherensi ini yaitu F.H Bradley.
Dalam teori ini, semua preposoisi saling berkaitan satu sama lain,
contohnya untuk mendefenisikan angka sembilan, kita tidak biasa hanya menyebut
hasil penjumlahan dari lima ditambah empat, namun juga hasil dari bagi, kali,
dan pengurangan.
3.
Kebenaran Korespondensi
Teori ini menyatakn bahwa sebuah preposisi dianggap benar apabila
sesuai dengan objek yang dituju, atau pernyataan itu sesuai dengan fakta. Dalam
Dictionary of Philosophy, kebenaran korespondensi adalah kebenaran yang
ditentukan oleh kesesuaian antara preposisi dengan unsur-unsur dari fakta.
Sejarah kemunculannya didasari dan dilatarbelakangi Aristoteles.
Filosof ini merupakan murid dari Plato. Argumennya adalah dia mengkritik
pendapat gurunya yang berani atau terlalu terkesan dengan suatu ide, namun dia
memandang dari sisi lain yaitu kesempurnaan manusia tidak hanya terbentuk dari
akal yang dimilikinya, namun juga dari jiwa yang sempurna. Tokoh yang mendukung
teori ini adalah Rogers dan Bertrand Russels.
Jadi dalam teori ini suatu kebenaran itu akan dinyatakan benar jika
telah ada suatu pembuktian yang bersifat empiris.[3]
4.
Kebenaran Pragmatis
Kebenaran ini berarti kebenaran yang diukur berdasarkan kegunaanya
secara praktis. Dalam teori ini para ilmuan yang berkembang adalah filosof
pragmatis itu sendiri yaitu Charles S. Phieces, Penulis buku how to make ou
idea clear? Ia meyakini bahwa segala sesuatu yang akan dijadikan pertimbangan
harus dipikirkan matang-matang, apakah memberikan manfaat atau mudharat. Yang
penting adalh betapa beasar akibat yang ditimbulka gagasan itu sendiri, tanpa
memikirkan hakikat gagasan itu sendiri. Pengetahuan ynag dimiliki manusia
berasal dari akibat yang disaksikannya.
Jadi teori ini
memngandalkan akan suatu kebenaran diukur dengan cara fungsional. Contoh teori
x akan dianggap benar apabila dirasakan manfaatnya.[4]
5.
Kebenaran Performatif
Teori kebenaran ini mengandaikan bahwa suatu proposisi dapat
dikatakan benar apabila sesuai denagn perbuatan konkret. Pendukung teori ini adalah
Frank Ramsey, John Austin, dan Peter Strawson. Teori ini menentang teori klasik
bahwa benar salah itu hanya menyatakan ungkapan suatu yang sudah ada. Para
ilmuannya lebih menekankan bahwa kebenaran itu lebih terfokus kepada sesuatu
yang belum tercipta sebelumnya, dan leawat suatu pernyataaan, maka kebenaran
itu bisa dipertegas. Contoh “ aku bersumpah setia kepadamu”, maka hal ini akan
dikatakan benar jikalau dia melakukan sumpahnya. [5]
C.
Teori- teori kebenaran Non-Ilmiah
1. Pengetahuan Biasa
Penganut teori ini disebut
dengan realisme. Teori ini mempunyai pandangan realitas terhadap alam.
Pengetahuan menurut realisme adalah gambaran atau kopi yang sebenarnya dari apa
yang ada dalam alam nyata (dari fakta atau hakikat). Pengetahuan atau gambaran
yang ada dalam akal adalah kopi yang asli yang ada diluar akal. Hal ini tidak
ubahnya seperti gambaran yang terdapat dlam foto. Dengan demikian, realisme
berpendapat bahwa pengetahuan adalah benar dan tepat jika sesuai dengan
kenyataan.[6]
Dalam kehidupan sehari-hari
manusia tidak terlepas dari proses tahu (tahap awal),dan hasilnya disebut
pengetahuan biasa (tahap kedua). Tahap ketiga ialah ilmu pengetahuan atau pengetahuan
ilmiah, yaitu pengetahuan yang tingkat vasiliditasnya diatas pengetahuan biasa.
Contoh pengetahuan biasa, “setiap orang tahu bahwa api itu panas.” Pengetahuan
tersebut diperoleh dengan cara kontak atau pengalaman (indrawi) antara subjek
dengan objek.[7]
2. Wahyu
Dalam kamus bahasa indonesia, wahyu yang
berasal dari bahasa arab, berarti adalah perwujudan (sepeti orang, dan
sebagainya) sebagai apa yang terlihat dalam mimpi. Art lainya adalah petunjuk
atau ajaran tuhan yang di turunkan dengan perwujudan dalam mimpi, dan
sebagainya.
Arti wahyu secara umum adalah
bisikan, isyarat atau petunjuk , ilham, perintah, perundingan rahasia. Dalam
syara”, wahyu adalah pengetahuan yang diperoleh Nabi atau Rasul, yang berasal
dari allah dengan perantara/ tidak melalui perantara ( malaikat, mimpi, indra,
lonceng). Manusia tidak akan mengetahui hakikat wahyu secara pasti, hanya
Allahlah yang mengetahui hakekatnya. Logikanya, sesuatu yang dibawa/
disampaikan oleh orang yang terkenal jujur dan terpelihra dari kesalahan.[8]
3. Mitos
Mitos itu diturunkan secara subyektif,
dalam arti kebenaranya hanya berlaku dimana berlaku dalam masyarakatnya, dan
tidak ada kaitan antara pengalaman dan penuturan. Mitos berarti menghindar
realitas, bukan menghadapi realitas. Seperti ruwatan, patung, sesaji yang dianggap
symbol yang dapat menghindarkan malapetaka.
Mitos biasanya efektif sebagai alat
komunikasi massa. Mitos akan hidup tatkala rakyat tertekan da n penuh harapan.
Mitos dapat juga mendorong per buatan. Misal mitos tentang ratu kidul,
masyarakat antusias datang kepantai seklatan melakukan ritual dan sesaji
berharap agar hidupnya selamat, aman dan tentram.[9]
Keyakinan adalah kemampuan
yang ada pada diri manusia yang diperoleh melalui kepercayaan. Sesungguhnya
antara sumber pengetahuan berupa wahyu dan keyakinan ini sangat sukar untuk
dibedakn. Adapun keyakinan melalui kemampuan kejiwaan manusia merupakan
pematangan dari kepercayaan.[10]
4. Mistik
Mistik atau disebut juga
dengan spiritual adalah teori yang masuk dalam supra-rasional, kadang memiliki
bukti empiris, tetapi kebanyakan tidak dapat dibuktikan secara empiris.
Spiritualisme adalah ajaran
yang menytakan bahwa kenyataan yang terdalam adalah roh (Pneuma, Nus, Reason,
logos) yaitu roh yang mengisi dan mendasari seluruh alam. Spiriualisme dalam
arti ini dilawankan dengan materialisme. Spiritualisme kadang-kadang dikenakan
pada pandangan idealistik yang menyatakan adanya roh mutlak. Dunia indera dalam
pengertian ini dipandang sebagai dunia idea.[11]
5. Intuisi
Menurut Henry Bergson
intuisi adalah hasil dari evolusi pemahaman yang tertinggi. Kemampuan ini mirip
dengan insting, tetapi berbeda dengan kesadaran dan kebebasannya. Pengembangan
kemampun ini (intuisi) memerlukan suatu usaha. Ia juga mengatakan bahwa intuisi
adalah suatu pengetahuan yang langsung, yang mutlak dan bukan pengetahuan yang
nisbi.
Menurutnya, intuisi
mengatasi sifat lahiriah pengetahuan simbolis, yang pada dasarnya bersifat
analisis, menyeluruh, mutlak, dan tanpa dibantu oleh penggambaran secara
simbolis. Karena itu, intuisi adalah sarana untuk mengetahui secara langsung
dan seketika. Analisis atau pengetahuan yang diperoleh lewat pelukisan tidak
dapat menggantikan hasil pengenalan intuisi.[12]
Intuisi bersifat personal
dan tidak bisa diramalkan. Sebaga dasar untuk menyusun pengetahuan secara
teratur maka ituisi tidak bisa diandalkan. Pengetahuan intuitif dapat
dipergunakan sebagai hipotesis bagi analisis selanjutnya dalam menentukan
benar tidaknya pernyataan yang dikemukakannya. Kegiatan intuitif dan analitik
bisa bekerja saling membantu dalam menentukan kebenaran. Bagi Maslow intuisi
ini merupakan pengalaman puncak (peak experience)[13]
sedangkan bagi Nietzsche merupakan inteligensi yang paling tinggi.[14]
D.
Cara Menemukan Kebenaran.
Tahapan dalam menemukan kebenaran dapat diklasifikasikan dan
dilihat dengan cara yang ilmiah dan non ilmiah. Cara-cara untuk menemukan kebenaran
sebagai mana diuraikan oleh Hartono Kasmadi, dkk.,(1990) sebagai berikut:
1.
Penemuan secara kebetulan
Penemuan
kebenaran secara kebetulan Yaitu penemuan yang berlangsung tanpa disengaja.
Dalam sejarah manusia, secara kebetulan itu banyak juga yang berguna walaupun
terjadinya tidak dengan cara yang ilmiah, tidak disengaja,dan tanpa
rencana.Cara ini tidak dapat diterima dalam metode keilmuan untuk menggali
pengetahuan atau ilmu.
2.
Penemuan’ coba dan ralat’(trial
and error)
Penemuan
cobadan ralat terjadi tanpa ada kepastian akan berhasil atau tidak berhasil kebenaran
yang dicari. Memang ada aktivitas mencari kebenaran, tetapi aktivitas itu mengandung
unsur spekulatif atau untung-untungan. Penemuan dengan cara ini kerap kali memerlukan
waktu yang lama, karena memang tanpa rencana, tidak terarah, dan tidak diketahui
tujuannya. Cara coba dan ralat ini pun tidak dapat diterima sebagai cara yang ilmiah
dalam usaha untuk mengungkapkan kebenaran.
3.
Penemuan melalui otoritas atau
kewibawaan
Pendapat
orang-orang yang memiliki kewibawaan, misalnya orang-orang yang mempunyai
kedudukan dan kekuasaan sering di terima sebagai kebenaran meskipun pendapat itu
tidak didasarkan pada pembuktian ilmiah. Pendapat itu tidak berarti tidak ada
gunnya. Pendapat itu tetap berguna, terutama alam merangsang usaha penemuan
baru bagi orang-orang yang menyangsikannya. namun demikian adakalanya pendapat
itu ternyata tidak dapat dibuktikan kebenarannya.
4.
Penemuan secara spekulatif
Cara ini mirip
dengan cara coba dan ralat. Seseorang yang menghadapi suatu masalah yang harus
dipecahkan pada penemuan secara spekulatif, mungkin sekali ia membuat alternatif
pemecahan. Kemudian memilih salah satu alternatif pemecahan, sekali pun tidak yakin
benar mengenai keberhasilannya.
5. Penemuan kebenaran lewat cara berfikir kritis dan rasional
Dalam
menghadapi masalah, manusia berusaha menganalisisnya berdasarkan pengalaman dan
pengetahuan yang dimiliki untuk sampai pada pemecahan yang tepat.Cara berfikir
yang ditempuh pada tingkat permulaan dalam memecahkan masalah adalah dengan cara
berpikir analitis dan cara berpikir sintetis.
6. Penemuan kebenaran melalui penelitian
ilmiah
Cara mencari kebenaran yang dipandang ilmiah
yang dilakukan penelitian. Penelitian adalah penyaluran hasrat ingin tahu pada
manusia dalam taraf keilmuan.Penyaluran sampai pada taraf setinggi ini disertai
oleh keyakinan bahwa ada sebab bagi setiap akibat, sddan bahwa setiap gejala
yang tampak dapat dicari penjelasannya secara ilmiah. pada setiap penelitian
ilmiah melekat ciri-ciri umum yaitu pelaksanaannya yang metodis harus mencapai suatu
keseluruhan yang logis dan koheren. Artinya, di tuntut adanya sistem dalam
metode maupun dalam hasilnya. Setiap peneletian ilmiah harus objektif, artinya
terpimpin oleh objek dan tidak mengalami distori kerana adanya berbagai
prasangka subjektif. Agar penelitian ilmiah dapatdijamin objektifitasnya.
Prosedur penelitian harus terbuka untuk diperiksa oleh ilmuan yang lain. Oleh
karena itu , penelitian ilmiah harus dapat dikomunikasikan.
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Secara tidak langsung,
hakikat manusia hidup adalah ditakdirkan sebagai makhluk yang selalu mencari
kebenaran. Hingga menemukan tiga bentuk eksistensi, yaitu agama, ilmu
pengetahuan, dan filsafat. Agama mengantarkan pada kebenaran dan filsafat
membuka jalan untuk mencari kebenaran. Sedangkan ilmu pengetahuan pada hakikatnya adalah kebenaran
itu sendiri, karena manusia menuntut ilmu dengan tujuan mencari tahu rahasia
alam agar gejala alamiah tersebut tidak lahgi menjadi misteri.
Di dunia
ini, tidak ada kebenaran yang absolut. Kebenaran dan kesesatan ilmu pengetahuan itu
sendiri tergantung kepada kita yang berusaha mencari tahu dengan menggunakan
kebenaran ilmiah yang terdiri dari proposisi, koherensi, korespondensi,
performatif, paradigmatik, semantik, sintaksis, pragmatik, non deskripsi dan
kebenaran logis yang berlebihan. Juga melalui kebenaran non ilmiah yang terdiri
dari pengetahuan biasa, wahyu, mitos, mistik dan intuisi.
B.
Saran
Dalam
pembuatan makalah ini, penulis telah berusaha mencurahkan segala pemikiran,
tenaga, dan upaya agar makalah ini dapat terselesaikan dan mendekati sempurna untuk
bisa dipahami dengan mudah oleh pembaca. Namun “tiada gading yang tak retak.”
Penulis menyadari bahwa masih banyak kesalahan dari segi isi maupun penulisannya.
Oleh karena itu, kemi dengan terbuka dan lapang dada akan menerima segala saran
dan kritik yang membangun dari seluruh pihak. Akhir kata sekian dari penulis,
mudah-mudahan makalah ini dapat bermanfaat untuk seluruh pihak dan dapat
dikembangkan di pembahasan maupun penelitian yang selanjutnya.
DAFTAR PUSTAKA
Suhasti, Ermi, Filsafat Ilmu,
Yogyakarta: Prajanya Media, 2012.
Adib, Muhammad, Filsafat Ilmu, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2011.
Tim Dosen,
Filsafat Ilmu, Yogyakarta: Lyberty, 2010.
Bakhtiar,
Amsal, Filsafat Ilmu, Jakarta: Raja
Grafindo Persada, 2004.
Stanley M.Honer dan
Thomas C. Hunt, Invitation to Philosophy ,Belmont, Cal:Wadswrth, 1968.
Jujun S. Suriasumantri,
Filsafat Ilmu, Jakarta:Pustaka Sinar Harapan, 2007, cet. Kedua puluh.
Sibawaihi, Filsafat Ilmu, Yogyakarta:
Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2011.
Ghazali, Bakhri,dkk, Filsafat Ilmu, Yogyakarta:
Pokja Akademik UIN Sunan Kalijaga,2005.
[2] Sibawaihi, Filsafat Ilmu, (Yogyakarta:
Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2011), hal. 26
[3] Sibawaihi, Filsafat Ilmu, (Yogyakarta:
Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2011), hal.27
[4]
Sibawaihi, Filsafat Ilmu, (Yogyakarta:
Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2011), hal 28
[5] Sibawaihi, Filsafat Ilmu, (Yogyakarta:
Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2011), hal 29
[9] Suhasti, Ermi, Filsafat Ilmu,(yogyakarta: prajnya media,2012).cet
I, hlm.69.
[12] Amsal Bakhtiar, Filsafat Ilmu, ( Jakarta:Raja Grafindo Persada,
2004), edisi revisi, hlm. 107 – 108.
[13] Dikutip dalam Stanley M.Honer dan Thomas C. Hunt, Invitation to
Philosophy (Belmont, Cal:Wadswrth, 1968), hlm. 72
[14] Jujun S. Suriasumantri, Filsafat Ilmu, ( Jakarta:Pustaka Sinar
Harapan, 2007), cet. Kedua puluh, hlm. 53.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar